Berita

Rektor IAIQH Bagu Jadi Narasumber TVRI NTB Bahas Fenomena Antrean Panjang di SPBU

12 Aug 2026 Admin IAIQH views
Rektor IAIQH Bagu Jadi Narasumber TVRI NTB Bahas Fenomena Antrean Panjang di SPBU

Rektor IAIQH Bagu Jadi Narasumber TVRI NTB Bahas Fenomena Antrean Panjang di SPBU

Lombok, 12 Agustus 2026 – Rektor Institut Agama Islam Qamarul Huda (IAIQH) Bagu, Dr. H. Muhammad Ahyar, M.Si., menjadi salah satu narasumber dalam program dialog interaktif NTB Bicara yang disiarkan secara langsung oleh TVRI NTB pada Rabu (12/8/2026). Mengangkat tema "Antrean Panjang di SPBU, Apa Penyebab dan Solusinya?", dialog ini menghadirkan berbagai pihak untuk membahas fenomena antrean BBM yang belakangan menjadi perhatian masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pada sesi awal dialog, pembawa acara Sisca Olivia meminta pandangan Rektor IAIQH Bagu mengenai penyebab terjadinya antrean panjang di SPBU. Pertanyaan tersebut menyoroti kemungkinan adanya keterbatasan stok BBM, gangguan distribusi, maupun meningkatnya pola konsumsi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Dr. H. Muhammad Ahyar, M.Si. menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), stok BBM secara nasional masih dalam kondisi aman. Namun, terdapat beberapa faktor yang memicu terjadinya antrean di lapangan.

"Pertama, apabila merujuk pada penjelasan Menteri Bahlil, stok BBM sebenarnya aman. Permasalahan yang terjadi lebih disebabkan oleh adanya gangguan distribusi dari terminal menuju SPBU. Kedua, muncul fenomena peralihan penggunaan BBM dari non-subsidi ke BBM bersubsidi akibat kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamina Dex. Ketiga, adanya disparitas harga yang cukup signifikan sehingga masyarakat beralih menggunakan BBM bersubsidi. Keempat, masih ditemukan penyalahgunaan barcode dalam pembelian BBM subsidi," jelasnya.

Dalam dialog yang sama, Ahmad Rahedi, Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi kondisi tersebut. Menurutnya, antrean di SPBU tidak selalu mencerminkan kelangkaan BBM.

"Budaya mengantre tidak selalu berarti terjadi kelangkaan produk. Masyarakat tidak perlu melakukan panic buying. Pertamina terus melakukan pemantauan melalui sistem digital terhadap stok di seluruh SPBU. Apabila terdapat SPBU yang mengalami peningkatan konsumsi sehingga stok lebih cepat habis, lokasi tersebut akan menjadi prioritas dalam proses distribusi dan pengiriman ulang BBM," ujarnya.

Sementara itu, Aripin, S.T., M.T., selaku Kepala Bidang Energi dan Ketenagalistrikan, mengimbau masyarakat NTB agar tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Ia menegaskan bahwa ketersediaan stok BBM di NTB dipastikan tetap aman sepanjang tahun 2026 sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

Pada penghujung dialog, Rektor IAIQH Bagu turut menyampaikan gagasan sebagai salah satu alternatif solusi untuk mengurangi antrean di SPBU. Ia mengusulkan agar ke depan Pertamina mempertimbangkan penerapan sistem self-service atau pelayanan mandiri pada SPBU tertentu, sebagaimana telah diterapkan di beberapa negara.

Menurutnya, inovasi pelayanan tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi proses pengisian BBM sekaligus mengurangi kepadatan antrean, tentu dengan tetap mempertimbangkan aspek keamanan, kesiapan infrastruktur, serta edukasi kepada masyarakat.

Dialog NTB Bicara menghasilkan sejumlah poin penting yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan PT Pertamina. Selain perlunya perbaikan sistem distribusi, penguatan pengawasan terhadap penggunaan BBM bersubsidi juga menjadi perhatian bersama. Kolaborasi antara pemerintah, Pertamina, aparat penegak hukum, serta seluruh elemen masyarakat dinilai penting agar penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran dan fenomena antrean panjang di SPBU dapat segera teratasi.

Dengan adanya diskusi terbuka ini, diharapkan lahir solusi yang komprehensif sehingga pelayanan distribusi BBM di Nusa Tenggara Barat semakin efektif, efisien, dan mampu memberikan rasa tenang kepada masyarakat.(Tika/QH Corner)

 

Bagikan: