Oleh : M Ahyar Fadly
Mungkin, sebagian kita sudah menghapal dan pernah menyanyikan lagu Rinto Harahap berjudul "AYAH". Berikut saya kutip reff-nya :
"Untuk Ayah tercinta, aku ingin ingin bernyanyi.
Walau air mata di pipiku.
Ayah dengarkanlah, aku ingin bertemu.
Walau hanya dalam mimpi".
Ya. Mungkin ada seorang anak yang begitu rindu terhadap ayahnya. Sebut saja namanya RISKA. Seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekedar mengajaknya bermain.
Suatu sore, sepulang kerja, sang ayah ditanya oleh Rizka, Ayah, kerja di kantor dibayar berapa sih sebulan? Sembari mengeryitkan dahi si ayah menjawab, ya, sekitar 2. 500.000,-
Kalau sehari berarti berapa, ya? Sela Rizka. Ayah mulai bingung. Seratus ribu rupiah, ada apa sich nak? Kok tanya gaji segala. Rizka bertanya lagi kepada ayahnya. Kalau setengah hari berarti Rp. 50.000,- dong? Ya, memangnya kenapa? Jawab ayah mulai jengkel.
Rizka dengan mantap mengajukan permohonan, begini, Yah ! Tolong tambahin dong tabungan Rizka, Rp. 5000,- saja. Soalnya Rizka sudah punya tabungan Rp. 45. 000,- . Rencananya Rizka mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi santai bersama, bercanda, bercerita dan saling mendengarkan keluh dan kesah kita masing-masing. Apa ayah bisa mengabulkannya? Tanya Rizka. Sang ayah hanya bisa terdiam dan mulai memahami apa yang dirasakan sang anak. Suatu permohonan yang sederhana tetapi berdampak besar bagi masa depan si anak.
Apa benang merah yang bisa kita ambil dari lagunya Rinto Harahap dan permohonan seorang anak bernama Rizka ke ayahnya? Adalah kurangnya waktu yang diberikan ayah kepada keluarganya (anak-anaknya). Itu, menjadi catatan penting yang harus mendapatkan perhatian dari seseorang yang berstatus sebagai seorang ayah.
Ya, harus diakui bahwa satu hal yang menjadi kendala kita sebagai ayah dalam membangun tatanan keluarga yang tangguh dan harmonis adalah "si pencuri waktu". Kita sebagai ayah terkadang sok sibuk dengan pekerjaannya. Padahal waktu kerja sudah diatur kapan harus berangkat, kapan harus beristirahat dan kapan harus pulang kembali ke rumah bersama istri dan anak-anaknya.
Urusan kantor, bisnis, dan kegemaran pribadi seringkali menjadi musuh secara tidak langsung merongrong kesempatan emas yang kita miliki untuk bercengkrama dengan anak (keluarga inti). Seringkali seorang ayah mencari kesibukan sendiri di luar jam kantor dengan pelbagai alasannya. Lembur lah, olah raga, menjalani hoby, bertemu kolega dan pelbagai alasan yang dibuatnya. Padahal, seringkali seorang ayah lupa, bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan anak-anaknya.
Dalil yang biasa kita pergunakan adalah demi masa depan keluarga, loyalitas kerja, kualitas kinerja, atau untuk membiarkan asap dapur tetap mengepul. Ya, tentu saja tidak salah semua dalil itu. Tetapi rumah tangga yang sakinah, mawadah dan rahmah bukan soal uang semata, bukan? Waktu yang cukup bersama keluarga (di luar) jam kerja jauh lebih membahagiakan berkumpul bersama istri dan anak-anak. Kalau hal seperti itu, tidak dapat dikelola dengan baik oleh seorang ayah, lalu bagaimana posisi seorang ayah di mata anak-anaknya? Nach, kalau begitu lalu siapa sebenarnya ayah di mata anak-anaknya?
Ketika saya dan juga anda masih kecil, kerap kita klaim bahwa seorang ayah adalah pahlawan (hero) bagi diri kita sendiri. Seorang filsuf pernah berkata bahwa Tuhan yang dilihat si anak pada masa kecilnya adalah ayahnya sendiri. Tidak salah pernyataan itu, bahkan sangat benar. Dari orang tuanya sang anak akan belajar tentang akhlak dan budi pekerti.
Investasi terbesar yang dapat kita berikan kepada putra putri adalah waktu dan kualitas komunikasi yang proporsional bagi mereka. Kurangnya komunikasi di rumah akan membuat putra putri kita mencari informasi dari luar rumah yang belum tentu benar. Oleh karena itu, jangan salahkan si anak kalau mencari pigur lain di luar ayahnya sendiri sebab si ayah tidak pernah memberikan waktu lebih bagi anak-anaknya.
Sehingga seorang psikolog mengatakan bahwa "kehadiran dan percakapan ayah dengan anak-anaknya, lebih berharga dari ribuan hadiah dan berlian". Penyataan ini mungkin saja benar adanya, namun tinggal bagaimana kita menyikapinya. Ada pepatah lama mengatakan "Apa yang ditabur, itu pula yang dituai". Tidak mungkin gajah melahirkan sapi. Atau sebaliknya, sapi melahirkan gajah. Semua berjalan sesuai hukum alam atau sunatullah. Atau pepatah lain mengatakan, “Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya”. Maknanya perangai seorang anak tidak akan jauh dari perangai orang tuanya. Maka dari itu, orang tua harus berhati-hati dan bijaksana dalam keluarga.
Kalau terjadi konsleting atau tidak mematuhi sunatullah maka itulah yang disebut kenakalan. Ketika anak masih sangat kecil misalnya, sebagai orang tua atau ayah jarang sekali mendengarkan mereka. Setelah mereka besar, mereka pun akan jarang mendengarkan orang tuanya. Kondisi seperti itu, bisa berakibat negatif dalam keluarga, di mana antara orang tua dan anak-anaknya saling sandera.
Inilah awal mulanya muncul perilaku menyimpang yang disebut kenakalan remaja. Secara tidak sadar itulah bentuk kontribusi orang tuanya terhadap perilaku menyimpang itu yang telah berselingkuh dengan "Si pencuri waktu". Cara terbaik agar anak-anak mendengarkan kita adalah dengan mendengarkan mereka. Bagi si anak, didengarkan merupakan bagian penting dalam implementasi cinta orang tuanya (bukan) merasa dicintai.
Implementasi cinta dan kasih sayang orang tua (ayah) terhadap anak-anaknya akan tertanam dalam sanubari si anak sampai dewasa. Dengan begitu ayah sebagai hero akan tetap abadi pada diri anak-anaknya. Dunia kerja sebagai wujud tanggung jawab ayah sebagai kepala keluarga harus dijalankannya demi kehidupan keluarganya. Namun, jangan sampai dunia kerja justru membuatnya teralienasi dan terasing dari anak-anaknya.
Kasih dan rindu seorang anak kepada ayahnya tergambar indah dalam syair lagu Rinto Harahap dan seorang Rizka yang siap membeli waktu setengah hari dari waktu kerja ayahnya. Ya, mereka rindu belaian dan kasih sayang ayahnya untuk mengisi relung hatinya yang masih putih bersih. Semoga.