INTERNASIONAL CONFERENCE
The education on asymmetric law
Pada siang hari ini tanggal 6 April 2026 IAI QH Bagu menyelenggarakan internasional conference yang bekerjasama dengan kampus upsi Malaysia. Pemateri pada kegiatan ini langsung dari dosen upsi itu sendiri yakni apak Dr. Salman Alfarisi.
Pada kegiatan ini langsung di buka oleh bapak wakil rektor 1 IAI QH Bagu bapak Dr. Lalu Khotibul Umam, M. A, pada sembutan ini yang disampaikan oleh bapak wakil rektor 1 menekankan bawah kebijakan pendidikan penting.
ADAPUN TUJUIAN DARI Internasional conference dengan tema The education on asymmetric law
- Asimetrik vs Simetrik dalam Desain Hukum Pendidikan
Simetrik: Sistem yang menganggap semua pihak setara, namun dalam praktik justru memperkuat ketidaksetaraan yang ada
-Asimetrik: Sistem yang sengaja dirancang tidak setara untuk mengakomodasi perbedaan kondisi dan kebutuhan
-Paradoks: Hukum pendidikan yang seharusnya menciptakan kesetaraan justru seringkali memperkuat struktur yang tidak adil
- Budaya Kemiskinan Literasi
- Mengubah budaya kemiskinan literasi memerlukan pengorbanan jangka panjang
- Ini bukan proyek instan, melainkan transformasi generasional
- Membutuhkan investasi berkelanjutan, bukan program-program sporadis
- Paradoks Peringkat Kesetaraan
- Ironi: Pemerintah yang merancang sistem equality ranking (peringkat kesetaraan) justru menjadi pencipta ketidaksetaraan itu sendiri
- Negara seringkali mengontrol narasi kesetaraan sambil mempertahankan struktur hierarkis
- Asimetrik sebagai Alat Keadilan
- Asimetrik bukan sekadar ketidaksetaraan, melainkan upaya sengaja melawan ketidaksamaan untuk menciptakan keadilan substantif
- Contoh: affirmative action, kuota, atau kebijakan diskriminatif positif
- Kolonialisme Pendidikan
- Hampir semua lembaga pendidikan telah dibawa ke arah "to be Western" (menjadi Barat)
- Kurikulum, metodologi, dan standar keberhasilan mengikuti paradigma Barat
- Ini mengancam identitas keilmuan lokal
- Jalan Keluar: Penguatan Identitas Keilmuan
- Tradisi Keilmuan Islam
- Identitas keilmuan harus diperkuat karena telah menjadi tradisi keilmuan dalam Islam
- Perlu menghidupkan kembali epistemologi Islam yang pernah menjadi pusat peradaban
- Counter-Simetrik Lokalitas
- Perlunya pendekatan counter-simetrik yang memperkuat:
- Identitas lokal
- Lokalitas (konteks setempat)
- Belajar hal yang sama dengan metode yang berbeda, sesuai konteks budaya dan sosial
- Tiga Pilar Transformasi
Spiritualitas Menyadarkan tujuan pendidikan yang lebih tinggi, tidak sekadar instrumental |
Lokalitas Menghargai konteks dan pengetahuan setempat |
Asimetrik Law Menggunakan hukum/desain tidak setara untuk mencapai keadilan substantif |
- Sintesis: Pendidikan di Era Asimetrik
Diskusi Anda mengarah pada kritik fundamental terhadap:
- Universalisme Barat yang mengabaikan konteks lokal
- Formal equality yang memperkuat ketidakadilan
- Kehilangan spiritualitas dalam pendidikan modern
Solusi yang diusulkan: Membangun sistem pendidikan yang:
- Mengakui dan merayakan perbedaan (asimetrik)
- Berakar pada tradisi keilmuan lokal (Islam dan lokalitas)
- Menyatukan spiritualitas dengan intelektualitas
- Menggunakan hukum/desain sebagai alat emansipasi, bukan penindasan
- Masalah Utama
Pendidikan modern terjebak dalam paradoks: hukum dan sistem yang mengklaim menciptakan kesetaraan justru memperkuat ketidakadilan, sementara hampir semua lembaga pendidikan terkolonialisasi ke arah Barat.
- Ketidaksetaraan Terstruktur — Sistem "simetrik" pemerintah justru merancang peringkat kesetaraan yang mempertahankan hierarki
- Kemiskinan Literasi — Membutuhkan pengorbanan jangka panjang, bukan solusi instan
- Kehilangan Identitas— Tradisi keilmuan lokal dan Islam terpinggirkan oleh dominasi Barat
Solusi: Pendekatan Asimetrik-Lokal
Aspek Implementasi
Asimetrik Gunakan ketidaksetaraan sengaja untuk melawan ketidakadilan |
Lokalitas Perkuat identitas dan metode belajar sesuai konteks |
Spiritualitas Kembalikan dimensi sakral dalam pendidikan |
Inti: Keadilan pendidikan tercapai bukan melalui kesamaan formal, melainkan pengakuan dan penguatan terhadap perbedaan serta identitas ke
Kesimpulan Diskusi: Pertarungan Ideologi Pendidika, Saya akan membantu merapikan dan menganalisis kesimpulan diskusi Anda tentang "Pertarungan Ideologi Pendidikan" yang semakin kabur. Berikut adalah penjelasan terstruktur dari poin-poin yang Anda tuliskan, Pendidikan harus dibangun dengan hukum asimetrik yang menghargai perbedaan, memperkuat tradisi keilmuan Islam, dan mengembangkan metode lokal, sebagai alternatif dari universalisme Barat.